fbpx
Connect with us

Budaya

Keluh Kesah Pencipta Batik Amaryllis, Tak Miliki HAKI dan Karyanya Dijiplak

Published

on

Patuk,(pidjar.com)–2 Oktober 2021 merupakan Hari Batik Nasional. Sejarah batik sendiri di Indonesia cukup panjang. Seperti yang diketahui, Hari Bari Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Di Gunungkidul, batik memiliki keanekaragaman motif dan bentuk yang sudah banyak dinikmati kalangan pecinta batik. Salah satunya, Batik Amarilis. Seperti yang diketahui, Batik Amaryllis terinspirasi dari bunga Amarilis yang belakangan ini viral di Kapanewon Patuk.

Adalah Hanafi Setiyo Nugroho (27) yang merupakan pencetus batik Amarilis. Warga Trosari, Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk ini memiliki komitmen besar untuk mengangkat nama daerahnya dengan kedua tangannya.

“Menjadi seorang perantau bukanlah merupakan pilihan hidup saya, karena memang keadaanlah yang menjadikan semua ini harus dijalani. Saya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan kecil yang bergerak di bidang kontraktor umum, sebagai seorang perantau dimanapun kita berpijak saya tidak mau melupakan daerah di mana tempat saya dilahirkan,” kata pria lajang yang sudah sembilan tahun merantau tersebut.

Bermodal keyakinan dan juga keaktifannya di berbagai sosial media ia pun selalu mengikuti perkembangan informasi di daerah. Khususnya, Kapanewon Patuk, daerah di mana ia berasal.

“Pada waktu itu tahun 2015 tepatnya bulan Agustus berbagai media televsi, surat kabar, radio dan sosial media baik dalam dan luar negeri sempat dihebohkan dengan viralnya Taman Amaryllis yang berada di Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk,” terang Hanafi.

Tanaman Amaryllis sendiri awal mulanya hanyalah dianggap tanaman Gulma yang mengganggu. Sehingga banyak orang yang membuangnya. Tapi semenjak bunga itu mekar bersamaan di sebuah ladang di pekarangan salah satu warga dan menarik perhatian masyarakat luas yang akhirnya menjadi viral.

“Awal tahun 2016 tepatnya bulan Januari ketika saya pulang ke kampung halaman saya di Padukuhan Salam saya-pun memberanikan diri untuk bertemu dengan Bapak Camat Patuk kala itu diampu oleh Pak Ambar. Pada waktu itu saya menyampaikan ide dan berandai-andai bahwa bunga yang viral ini tidak ada salahnya jika dibuat dan diabadikan dalam selembar kain batik,” jelas Hanafi.

Kala itu ia berpikir bahwa harus batik. Hal ini bukanlah bukan tanpa alasan mengingat ia sendiri sangat menyukai bermacam keindahan Indonesia yang diabadikan dalam lembaran kain. Awal mula merantau, Hanafi sendiri selalu mencoba mencari beberapa kain khas yang ada di Indonesia. Di antaranya Batik Mega Mendhung dari Cirebon, Batik Baduy dari Banten, Kain Sasirangan dari Banjarmasin dan lain sebagainya.

“Kain-kain itu saya dapat dengan menyisihkan sebagian dari uang jajan saya dan kebetulan ide saya dapat respon positif dari pemerintah kecamatan,” terang Hanafi.

Waktu terus berlalu, ia kemudian kembali ke perantauan dengan terus menjalin komunikasi intens dengan pemerintah kecamatan. Ia merasa bersyukut ternyata ide gagasan untuk membuat batik Amaryllis bak gayung bersambut.

“Akhirnya di sela kesibukan saya mencoba mencari tahu tentang seluk beluk batik, saya mencoba membuat goresan motif batik. Meski hingga berkali-kali mengalami revisi, tidak kemudian memupuskan harapan saya, disini saya mencoba membuat suatu motif yang mungkin jarang ditemui di daerah lain,” jelasnya.

Kemudian, ia ingin membuat batik yang disertai dengan filosofi dan makna pada setiap goresan motif. Dengan harapan akan menjadi daya tarik dan nilai tersendiri untuk membedakan dengan batik yang ada di pasaran. Memasuki bulan Juni 2016, desain batik Motif Utama Amaryllis dan Tumpal Bambu Rebung Sirih berhasil ia rampungkan.

“Setelah itu saya mencoba mencari info di berbagai media tentang pengrajin canting cap, tidak lama kemudian saya mendapatkan pengrajin canting dari Pekalongan. Setelah setuju harga, saya pun memesan sesuai dengan motif yang saya gambar,” ulas Hanafi.

Setelah canting sudah jadi ia pun kebingungan untuk mencari pengrajin batik yang bisa untuk mewujudkan dalam selembar kain. Setelah mencari dan mencari akhirnya ada salah satu sanggar batik di Yogyakarta yang bisa mewujudkan idenya dalam selembar kain.

“Alhamdulillah pada bulan Agustus 2016 batik tersebut di launching, kami semaksimal mungkin mengenalkan batik tersebut kepada masyarakat. Respon positif pun datang dari berbagai kalangan. Kini batik tersebut berkat dukungan berbagai pihak sudah memiliki hak paten 50 tahun,” papar dia.

Namun begitu, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sendiri dipatenkan atas nama Camat Patuk kala itu. Ia sendiri belum begitu memahami pentingnya mematenkan karya. Hingga kini ia sendiri mulai resah, meskipun memiliki ide dalam mendesain Batik Amaryllis, ia tak sepenuhnya memiliki hak.

“Jadi yang didaftarkan HAKI sendiri atas nama Pak Ambar dan Bu Aning, dengan biaya pribadi Pak Camat. Karena saat itu ada yang mau menjiplak Batik Amaryllis,” kata Hanafi.

Hingga kini, Hanafi sendiri tidak mengetahui proses jual beli lembaran kain batik yang kini menjadi khas Kapanewon Patuk tersebut. Namun begitu, ia mengaku cukup legowo, karena tujuannya untuk mengangkat daerah bisa terealisasi.

“Tapi agak prihatin karena saat ini banyak sekali desain batik yang juga berasal dari Gunungkidul menjiplak Batik Amaryllis yang saya buat. Tapi di sisi lain, saya tidak bisa apa-apa karena HAKI tidak di tangan saya,” tandas Hanafi.

Atas apa yang terjadi pada dirinya, Ia berharap kepada seluruh masyarakat jika memiliki karya harus segera dipatenkan. Selain melindungi keaslian karya, HAKI sendiri menjadi menjamin hak dari pembuatan karya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler